dissociative identity disorder
kadang kala kita memang merasa seperti bukan menjadi diri sendiri, tapi hal ini adalah normal dan bukan brarti menderita multiple personality.
menurut DSM-IV, diagnosis yang benar untuk dissociative identity disorder (DID) adalah jika seseorang itu mempunya 2 ego yang berbeda (alter ego), di mana masing2 ego mempunyai perasaan, kelakuan, kepribadian yang exist secara independent – dan ‘keluar’ dalam waktu yang berlainan. biasanya ada 1 kepribadian utama, dan penyembuhan penyakit ini biasa dilakukan pada alter utama. pada umumnya, ada 2 – 4 alters pada saat seseorang ter-diagnosa, dan cukup sering ada alter2 lainnya lagi yang muncul pada saat treatment.
gap dalam ingatan juga biasa terjadi karena dari satu alter dengan alter lain tidak berhubungan; dalam arti, alter A tidak mempunyai ingatan alter B itu seperti apa, atau mungkin malah tidak tau tentang keberadaan alter B. keberadaan alter yang berbeda harus kronik (long lasting / berlangsung lama), dan menyebabkan gangguan dalam kehidupannya. (jadi bukan gara2 mengambil obat tertentu, misalnya)
masing2 alter bisa cukup kompleks, dengan tingkah laku, ingatan, relationship yang tersendiri. biasanya kepribadian2 ini berbeda atau malah saling bertolak belakang. mereka bisa aja mempunyai pikiran sendiri, pake kacamata dengan degree yang berbeda, atau alergi terhadap substances yang berbeda. alter utama maupun yang subordinate masing2 sadar akan ‘waktu yang hilang’ (memory gap), malah kadang suara alter yang satu (A) bisa ‘masuk’ ke alter yang lain (B), walau alter itu (B) tidak tau/sadar asal suara itu dari siapa.
DID biasanya bermula dari saat kecil, tapi jarang ter-diagnosed sampe saat dewasa. penyakit ini jauh lebih rumit dibandingkan penyakit dissociative yang lain, dan kadang tidak bisa disembuhkan secara total. penyakit ini lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria. cukup sering DID disertai penyakit lain, misalnya depression, borderline personality disorder, dan samatization disorder. penderita juga biasanya mengalami sakit kepala, substance abuse, fobia, halusinasi, percobaan bunuh diri, begitu juga dengan gejala dissociative lainnya seperti amnesia dan depersonalization.
kasus2 DID kadang di-misunderstood sebagai schizophrenia. schizo berasal dari bahasa yunani, yang berarti “splitting away from”; sehingga hal ini menyebabkan kebingungan. padahal split personality ini cukup berbeda dengan gejala2 yang ditemukan dalam schizophrenia.