Extreme Imagination

14 September 2008 at 3:31 pm (Nicholas, Pemikiran, Perwakilan)

“Gantungkan cita-cita setinggi langit”

Mungkin kita sering mendengar kalimat seperti itu. Klise malah. Tapi pernahkah kita benar-benar memperhatikan masalah ini? Disadari atau tidak, masyarakat kita sebenarnya mengalami pengontrolan otak dan pola pikir sejak zaman dahulu kala. Sejak zaman apa? dimulai dari zaman kerajaan-kerajaan feodal yang menuntut kepatuhan mutlak para rakyatnya. Lalu ketika masuk kepada masa penjajahan, pengontrolan pemikiran juga semakin ketat. Lebih dari 350 tahun kita akhirnya merdeka, itupun karena Jepang di Bom Atom sama amerika dan kita cari celah supaya merdeka.

Masuk ke masa awal kemerdekaan, kita pun masih sering di gempur sama agresi militer belanda, NICA, KNIL, dan konco-konconya. Tapi ada satu cita-cita bersama, mempertahankan kemerdekaan. Ketika Sukarno memimpin, Semua diwajibkan memiliki satu impian dan cita-cita, REVOLUSI. Tidak akan pernah ada masyarakat yang dapat berkembang dengan impian yang dipaksakan. Apalagi kalau sebagian besar rakyat tidak memahami impian dan cita-cita itu, seberapapun mulia dan tingginya.

Ketika Sukarno jatuh dan Suharto berkuasa dengan dukungan barat, Suharto juga menggunakan pemaksaan impian dan cita-cita tunggal yang bernama PANCASILA. GBHN, P4, UUD1945 menjadi begitu keramat masa itu, demokrasi pancasila, demokrasi pembangunan, menjadi kamuflase untuk membangun rezim selama puluhan tahun. Rakyat disubsidi dengan sebagian kecil dana hutang supaya nurut dan ga banyak ulah, sebagian besarnya jadi bahan korupsi orang-orang yg dekat kekuasaan. Kalau ada yang berani bermimpi mengganti presiden saat itu, bisa dipastikan pindah kamar ke nusa kambangan, karir politiknya musnah, bahkan bisa diurus sama PETRUS.

Maka bisa dipahami setelah berbagai generasi terlahir generasi yang miskin imajinasi, rendah cita-cita, dan terkurung dalam kotak buatan penguasa, media, dan omongan masyarakat sekitar. Pendidikan disekolah yang dicanangkan pemerintah berperan besar dalam mengerdilkan kemampuan imajinasi rakyatnya demi menciptakan generasi kacung yang penurut. Disekolah sekolah, diwajibkan duduk manis dan menurut, siapa yang vokal dia dijegal. Kognitif dipertuhankan, otak kiri diagungkan, IPA, Eksakta, Matematika jadi pujian, IPS, Kesenian, dan Olahraga dipinggirkan. Menghafal dan menjawab soal menjadi tujuan hidup pelajar demi selembar kertas, bukan lagi ilmu pengetahuan yang jadi ambisinya.

“Orang besar memiliki mimpi yang besar”

Ketika teman, tetangga, dan orang asing menertawakan Wright bersaudara karena bermimpi manusia bisa “benar-benar terbang” mereka tidak perduli. Dengan segala kemampuan yang mereka miliki, mereka berusaha mewujudkan impian mereka. Dan butuh berpuluh-puluh tahun untuk menyempurnakan mimpi mereka.

Kami menyadari pentingnya imajinasi sejak The Core masih SMA kelas 3. Dia mulai merancang peta hidupnya. Peta yang besar, peta yang luas, peta yang “ajaib”, dan cenderung khayal tingkat tinggi. Ketika lulus SMA ia memutuskan untuk tidak kuliah, banyak kawan, saudara, dan kenalan yang mencibir dan menyayangkan keputusannya melihat kemampuannya yang sebenarnya memadai. Tapi karena peta itu…. ia berani melukis hidupnya sendiri. Tidak mengekor garis orang tua, tidak terseret arus pertemanan, atau membuang-buang waktu menjalani alur yang salah. Ketika The Core bilang “Saya akan bekerja di brunei” Dan semua orang mentertawakannya. Minimal tersenyum dengan menyimpan komentar masing-masing dalam hati. Dan you know what? perlu 8 tahun untuk membuatnya terwujud. Lama memang, tapi terwujud. Setapak demi setapak, setetes demi setetes.

Apa bedanya mimpi, khayal, dan cita cita?

Mimpi adalah bagian dari imajinasi. Tiada batas, bebas. Mau bikin rumah di matahari, jupiter, atau andromeda juga sah. Disini hidup menjadi lebih luas, lebih menarik, dibanding terjebak rutinitas abadi jadi kacung.

Khayal adalah mimpi yang tidak dikelola dengan baik, tidak dipetakan, tidak direncanakan, dan tidak diusahakan. Berbahaya karena bisa menjerumuskan orang menjadi Schizophrenia, Delusi, ataupunsejenisnya.

Cita cita adalah bukti manajemen mimpi yang baik. Disusun secara terencana, dengan target-target realistis dan fleksibel. Antisipasi berbagai kemungkinan, dan melangkah untuk mewujudkannya.

Jadi…. Whats ur Extreme Imagination?

Tulis sebuah Komentar