Poligami dalam Analogi
Islam membolehkan poligami, bahkan diatur di kitab suci, tapi banyak yang tidak memahami, karena mereka cuma ikut emosi. Mereka bilang itu siasat lelaki, untuk mencari tambahan isteri. Ada apa tentang poligami? banyak hikmah yang bisa kita gali.
Berhubung masyarakat kita bisanya emosi, jika dibacakan ayat suci mereka alergi. Belum apa-apa sudah antipati. Bagaimana mereka bisa mengerti?
Poligami dalam Analogi
Oke, berhubung masyarakat kita cuma ngertinya emosi dan logika, tidak mudah menjelaskan poligami dengan ayat suci. Jadi pada tulisan ini saya akan mencoba menyederhanakan konsep poligami dalam islam.
Desa Kecil
Bayangkan ada sebuah desa, desa ini mewakili masyarakat secara umum. Anggap saja desa ini merupakan desa terakhir di muka bumi, penduduk bumi lainnya punah karena bencana alam, topan badai, bom nuklir, atau lumpur lapindo.
Di desa ini tersisa 5 orang manusia, 2 berjenis kelamin pria, 3 berjenis kelamin wanita (sesuai dengan fakta bahwa jumlah wanita surplus lebih banyak dibanding jumlah pria.) Kita namai saja pria ini Pria A, dan Pria B, sedangkan wanitanya kita namai Wanita A, Wanita B, dan Wanita C.
Bagi masyarakat kita yang gembar gembor anti poligami, membela hak asasi wanita, feminisme, dan lain sebagainya, untuk sejenak kendurkan urat ngotot anda dan mulailah melapangkan dada menerima analogi berikut :
Pria A dan Pria B memiliki karakter yang bertolak belakang, Pria A adalah Pria yang baik hati, penyayang, pelindung, bertanggung jawab, adil, dan hal baik lainnya yang membuat Pria A layak mendapat predikat “Suami Idaman Para Wanita”. Untuk menyingkatnya, kita anggap Pria A “qualified” sebagai suami yang baik.
Pria B Sebaliknya, ia adalah lelaki kasar, tak berperasaan, KDRT, tak bertanggung jawab, suka judi, suka mabok, suka selingkuh, dan segambreng kebejatan moral lainnya yang memposisikan dia sebagai “Pria Tidak Baik”
Dengan sistem sosial sekuler sekarang dimana Demokrasi, HAM, Feminisme, kesetaraan gender berdengung-dengung ramai-ramai menolak poligami, maka konsekuensi sosialnya adalah sebagai berikut :
1. Ada 1 orang wanita bahagia menikah dengan Pria A yang Qualified.
2. Ada 1 orang wanita menderita karena menikah dengan Pria B yang tidak baik
3. Ada 1 orang wanita yang kesepian jadi jomblo sampai mati.
Itukah nilai nilai luhur yang didengung-dengungkan (yang katanya) membela kaum wanita? Bukankah setiap manusia (termasuk wanita) memiliki hak untuk bahagia? untuk menikah dengan pria yang baik, mendapat nafkah lahir dan batin dalam hidupnya?
Islam memahami kondisi ini, maka itu ia mengatur tentang poligami. Tapi poligami bukanlah senjata lelaki, untuk alasan ia menambah isteri. Mereka yang ingin poligami sebaiknya mengukur diri, apakah sudah menjadi qualified dari sikap sampai ke hati. Jika qualified belum disandang, jika isteri pertama belum sanggup dibahagiakan, jangan berpikir untuk poligami, berpikirlah untuk memperbaiki diri.
Jika di desa kecil itu dibolehkan poligami, maka peluangnya adalah :
1. Ada 3 orang wanita bahagia karena menikahi pria yang qualified lagi adil.
2. Ada 1 Pria tidak baik jomblo sampai mati.
Sekarang bayangkan Para wanita di posisi salah satu wanita di desa itu, dan para pria di posisi pria itu. Dan tentukan sendiri, apakah sudah bisa paham Poligami dalam Analogi?
hmmm soal pligami
ya salut n menghargai yang bisa tegar menerima dey
tapi saya rasa saya belum bisa setegar itu..
hiduuupppp…!!!!!
========================================
Ini bukan postingan untuk kampanye poligami kok, tapi pemahaman saja, jangan terlalu antipati, jangan juga semena-mena memanfaatkan poligami
Bahasan ttg Poligami mmg selalu mengundang pro dan kontra ya?
klo mnrtku siy, semuanya tergantung pemahaman para subyek yg terkait poligami..
ya si suami yg berpoligami, dan si Istri pertama (atau kedua) yang dipoligami..
Si Suami hrs bisa yakin lillahi Ta’ala bisa berlaku adil (juga ambigu, ya, adil secara manusiawilah)…spt kata Aa Gym, si suami harus punya ilmu yg cukup (dlm hal ini bukan ilmu kudu, kudu ditaati, tapi ilmu Istiqomah, ilmu agama yg cukup), yah, sec harfiah, cukup sholehlah..
plus, sec materi juga berkecukupan..(ingat, banyak masalah rmhtangga bermula dari mslh kekurangan atau ketidakadilan ekonomi khan?)..
so, laki2 yg mau berpoligami, silahkan..tapi hrs bs bertanya dan istrospeksi diri..sudah cukupkah “ilmu” nya, sudah cukupkah materinya…(ini mnrt aku lho)
selain itu, si istri yg dipoligami, jika si suami bs istiqomah n berilmu ckp, aku rasa biarpun tetap sakit hati, kemungkinan besar akan memperbolehkan suaminya berpoligami..mgkn dgn melihat kriteria2 madunya..mgkn hrs juga ckp shalihah?
well, sori klo komentarnya jd panjanglebar..ini cuma mnrt pandanganku lho..
selebihnya Allahualam bisshawab..kebenaran hanya milik Allah..right?
====================================================
Terima kasih komentarnya…..
http://etikush.blogspot.com/2009/03/aq-ingindipoligami.html
================
Sudah Saya baca postingannya, bagus, selaras dengan yang sudah saya tulis