Kampanye Kondom
Hari ini kami menemukan berita menarik yang berhubungan dengan HIV/AIDS. Sehubungan dengan diselenggarakannya Pekan Kondom Nasional 2008 yang digelar Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN), Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional, DKT Indonesia dan mitra lainnya (baca: produsen kondom bermerk -red).
Kampanye ini diselenggarakan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran tentang penggunaan kondom sebagai alat untuk menghindari kehamilan tidak direncanakan dan mengatasi penyebaran infeksi menular seksual, termasuk HIV.
Penularan virus HIV terjadi karena penggunaan napza suntik 49,1 persen, dan lewat hubungan seksual 46,2 persen (heteroseksual 42,1 persen dan homoseksual 4,1 persen), kata Sekretaris KPA Nasional Nafsiah Mboi, dalam diskusi terkait Pekan Kondom Nasional 2008, Senin (3/11), di Kafe Barcode, Kemang, Jakarta Selatan.
Selain itu, jumlah penghentian kehamilan atau aborsi di Indonesia sangat tinggi. Data Departemen Kesehatan RI per Agustus 2007 memperlihatkan, jumlah kasus aborsi di Indonesia mencapai 2,3 juta kasus per tahun. Hal ini belum termasuk aborsi non medis. Oleh karena itu, rangkaian kegiatan di dalam PKN 2008 diarahkan untuk meningkatkan pemahaman dan penggunaan kondom sebagai salah satu cara untuk mengatasi kehamilan tidak direncanakan dan infeksi menular seksual, termasuk HIV, ujar Nafsiah.
dikutip dari aids-ina.org bersumber dari kompas
Media massa terus menerus mengangkat topik peranan kondom dalam mencegah HIV/AIDS, tujuannya adalah supaya masyarakat percaya kalau kondom memang bisa mencegah penularan virus HIV/AIDS. Saya sempat percaya aja sama berita-berita ini, tapi fakta mengejutkan baru saya ketahui hari ini. Kalau sebenarnya kondom tidak mampu melindungi kita dari penyebaran virus HIV/AIDS.
Penggunaan kondom bukan jaminan seseorang bebas tertular virus HIV karena alat kontrasepsi tersebut memiliki pori-pori yang memungkinankan untuk ditembus virus. “Penggunaan kondom untuk cegah HIV tidak aman 100 persen,” kata psikiater dan guru besar FK UI, Prof Dr dr Dadang Hawari. Ia mengatakan, pada dasarnya fungsi kondom adalah untuk mencegah masuknya sperma bukan untuk membendung serangan virus.Menurutnya, penggunaan kondom dalam program KB (keluarga Berencana) saja mengalami kegagalan hingga 20 persen. “Padahal perbandingan sperma dengan virus itu mencapai 450 banding 1,” katanya. Kondom terbuat dari karet (latex) yang merupakan senyawa hidrokarbon dengan polimerisasi (berserat dan berpori bagaikan tenunan kain). Pori-pori tersebut hanya dapat dilihat melalui mikroskop dengan lensa elektron.
Besarnya pori-pori kondom dalam keadaan tidak meregang sebesar 1/60 mikron dan saat meregang 10 kali lebih besar ukurannya. “Padahal ukuran virus HIV itu kira-kira sebesar 1/250 mikron,” katanya. Dadang mencontohkan, kondom yang beredar di pasaran Amerika Serikat yang terkenal sebagai kualitas terbaik saja mengalami kebocoran hingga 30 persen (di luar pori-pori kondom). “Kondom yang dijual di Indonesia di pinggir jalan, di tempat yang kena sinar matahari atau lampu langsung, dan apalagi yang sudah kadaluarsa, tidak ada jaminan efektif cegah HIV,” katanya.Menurut dia, alat kontrasepsi latex itu harus disimpan di tempat yang berhawa dingin (20 derajat C) dan kering. “Kondom bila dipakai pada alat kelamin laki-laki pada suhu 37 derajat dan liang senggama perempuan juga pada suhu 37 derajat, tidak ada jaminan tidak ditembus HIV,” katanya. Kondom idealnya mempunyai cacat lubang kecil mikroskopis (pinholes) maksimum 0,4 persen berdasarkan uji kebocoran dengan pengisian 30 ml air pada suhu kamar, dengan luas kondom ideal sebesar 80 cm2.Saat ini badan POM di Amerika Serikat (FDA) telah memberikan persyaratan pada setiap perusahaan kondom agar mencantumkan peringatan di setiap kemasan yang berbunyi bahwa kondom untuk sperma bukan untuk virus. Menurut Dadang cara untuk menghindari tertular HIV adalah tidak melakukan seks bebas, perselingkuhan, pelacuran, dan homoseksual. “Pastikan juga darah untuk transfusi tidak tercemar HIV dan selalu gunakan jarum suntik yang baru dan steril,” katanya.
sumber : depsos.go.id
Nah… pertanyaannya adalah… kalau kondom memang tidak mampu mencegah penularan virus HIV/AIDS, kenapa gembar gembor dikampanyekan sebaliknya? saya curiga pihak produsen kondom ikut dompleng kampanye pencegahan penularan HIV/AIDS dengan motif kapitalis (kan lumayan iklan) dan lebih jauh lagi dibalik itu ya.. konspirasi penyebaran paham seks bebas dan hedonisme